Label

Kamis, 12 April 2012

BUKU KE-3

Rembulan di Langit Oktober

Ternyata bukan kau yang mencumbu
melainkan hanya senyummu
menjelma lewat lengkung perak
rembulan di langit Oktober

Sedang rindu,
telah lama merasuki malam satu demi satu
di antara bilik-bilik hati
yang tiba-tiba sepi
senyap tanpa kau singgahi..

Ah..
sepertinya aku ingin kembali berkaca
pada lengkung perak
yang sinarnya seindah asmara..
ingin pula kubidikkan satu pesan
lewat garis-garis cahayanya
untukmu,
yang kuyakin menatap rembulan yang sama,

Ya!
aku menantimu
malam ini,
ketika lengkung perak itu serupa senyummu
hingga esok,
saat ia sempurna melukis wajahmu
dalam nyata..


01 Oktober 2011
23:29 WIB


Mau baca puisiku dan teman-teman lainnya? Segera miliki "Antologi Puisi: Merah Darah Putih Puisi, Writing Revolution", terbitan LeutikaPrio,2012. Harga: Rp. 46.700,-


BUKU KE-2


DI BALIK KESABARAN
Oleh Fanny YS


“Faan, tungguuu!”
            Langkahku terhenti. Kucari sumber suara yang memanggilku.
“Hay….” Sapaku. Kulihat Rita berjalan menghampiriku.
“Ada titipan nih dari Diana, lusa dia nikah.”
            Rita menyodorkan selembar undangan cantik dari dalam tasnya.
“Waaw!”
“Datang nggak?”
“Insya Allah, Rit.” Jawabku sembari jalan beriringan.
“Kapan kamu nyusul nikah?” tanyanya.
“Belum tahu, Rit. Doakan saja ya….” Jawabku.

            Kami pun bercakap sambil terus menyusuri lorong. Sampai di depan IGD kami berpisah. Rita pulang bersama suaminya dan aku dijemput Ugi. Sepertinya sudah lama ia menungguku di sana.
....

 Nikmati kelanjutan FTS-ku ini di antologi "Unforgettable Moments, Kisah-kisah tak terlupakan sepanjang tahun 2011", terbitan AG Publishing 2012 (Rp. 60.000,-)




BUKU KE-1


Di Sudut SurauMu
oleh: Fanny YS

Langit diam-diam runtuh
menimpa dada yang tak lagi utuh
yang ada hanya hitamnya ruh
di jiwa rapuh

Sungguh,
kaki tak lagi bermata
jejaknya tak lagi berharga
terlalu sering ia berkubang
di genangan dosa
menjauh dari garis jalan
yang diiyakan Tuhan

.....

Mau tahu kelanjutan puisiku? Ayo, bisa dilihat di Antologi "di Sebuah Surau, ada Mahar Untuk Mu", terbitan Tinta Media 2011.

 

Rindu Emak (dan Gorengan)


Tiba-tiba aku rindu padamu, Mak
juga pada sepiring gorengan buatanmu
kau tahu?
aku selalu ingat gurihnya
segurih cinta yang titipkan untukku
bersama bait-bait doamu

Mak,
lembaran tempe yang kau lumuri dengan tepung
kau goreng dalam minyak hingga mengapung
aku pernah bisa kulupa, Mak
pun dengan ubi jalar yang kau haluskan
kau buat menjadi bulatan
serta irisan kubis dan wortel dalam adonan
yang kau goreng kemudian ditiriskan
ah, Mak …
aku rindu

Doakan aku, Mak
agar lekas kembali dari perantauan
aku merindumu, Mak
juga pada sepiring gorengan buatanmu
yang dulu sering kita habiskan
untuk usir beku
saat hujan memilukan

*menang di kuis puisi Grup Cafe Rusuh-Tempat Nongkrong Para Perusuh


Minggu, 08 April 2012

REMBULAN


Ketika kau tak menghubungi seseorang di seberang sana,
apakah kau tahu di sana ia sendiri?
 kesepian?

Ketika kau cuma menghadiahkan ia sunyi,
apakah kau yakin ia selalu menjaga hatimu?
rindumu?

Sebuah inbox itulah yang pertama kubaca ketika kubuka akun facebook-ku, setelah sekian lama kudiamkan. Padahal kalau kuingat, dulu aku adalah facebooker sejati yang tak pernah bisa lepas dari jejaring sosial itu. Hmm, waktu dan kesibukkan kadang bisa membuat kita berubah, meskipun untuk hal-hal kecil seperti itu.

Kembali ke masalah inbox, itu pesan dari Rembulan? Kubaca ulang sekali lagi dan kutangkap waktu pengirimannya. Ia mengirimnya semalam, 6 April 2012. Sekitar dua dan tiga minggu yang lalu pun ia mengirikan pesan yang sama, dua bait puisi.

Ya, Tuhan … bodoh sekali diriku. Sudah berapa lama kah aku tak mendengar kabarnya? Lebih tepatnya, memberi kabar padanya? Tanyaku dalam hati. Mengapa baru sekarang aku menyadari bahwa diriku ini lelaki yang jahat?  Ah, maafkan aku, Rembulan.

Alasan yang klise memang; aku sibuk dengan pekerjaanku. Apalagi untuk say hallo lewat facebook atau twitter, menghubunginya lewat handphone pun aku tak pernah. Sungguh, aku ini memang lelaki jahat, tak berperasaan. Aku lupa kapan terakhir menelephonnya. Aku juga tak ingat kapan terakhir aku membalas pesan singkatnya.

***

“Selamat ya, Sayang.” Ucap Dion pada Rembulan, gadis berparas ayu di hadapannya.
“Hehe, makasih ya.” Jawab Rembulan sembari menutup layar facebook di laptopnya.

Sore itu sore terindah untuk Rembulan. Sengaja ia ingin membaginya pada Dion, kekasihnya. Ia menjadi juara satu lomba puisi yang diadakan sebuah grup penulisan yang baru sebulan ini ia ikuti. Sebuah awal yang baik. Ia senang menulis. Kali ini ia berniat menekuni dunia itu, di samping tetap menjalani tugasnya sebagai seorang perawat.

“Kalu gitu, buat novel atau buku kumpulan puisi aja, Say,” saran Dion.
“Hmm, nggak segampang itu, Dion. Butuh proses dan inspirasi yang kuat dan menarik.”
“Kenapa susah? Kan ada aku, bisa jadi inspirasi ….” Ucap Dion diiringi tawa.
Tanpa ia mintapun, Dion adalah inspirasi terindah bagi Rembulan, seumur hidupnya.

***

Aku ingin lekas sampai. Aku rindu padamu, Rembulan. Rindu pada senyummu, binar matamu dan pada candamu yang sering menepis dukaku. Aku rindu pada celoteh-celotehmu tentang angin, senja dan purnama yang sering kau tuang pada karya-karyamu. Aku ingin segera berjumpa. Tunggu aku … tunggu aku menjemput cintamu.

Deru kereta membawa tubuh dan harapan Dion pada gadis pujaan hatinya. Perjalanan di ujung senja, Surabaya-Cilacap.

***
6 April 2012

            “Rembulan, jangan mendekat, Bulan! Apinya semakin besar!” Teriak seorang lelaki sembari menahan tubuh putrinya.
            “Bulan harus ke dalam, Ayah! Bulan harus selamatkan laptop Bulan, Yah. Ada naskah novel perdana Bulan di sana!”
            “Bahaya, Bulan! Bahaya!” Teriak lelaki itu. Namun putrinya lepas dari genggamannya. Ia menerobos masuk, melewati puing-puing rumahnya yang masih bergulat dengan si jago merah. Dan malam itu juga, putrinya tak kunjung kembali.

END

*Sedang diikutkan dalam Lomba FF minggu ke-1 Pustaka Inspirasiku, link infonya bisa dilihat di:  http://pustakainspirasiku.blogspot.com/2012/04/lomba-ff-mingguan-pustaka-inspirasi-ku.html